Jumat, 22 Februari 2019

6 Penyebab Milineal Tidak Membeli Rumah

6 Penyebab Milineal Tidak Membeli Rumah

Milenial merupakan terminologi yang mengacu pada generasi kelahiran 1980-2000-an.

Generasi ini sangat melek dan mempunyai keterikatan tinggi terhadap teknologi, tetapi di sisi lain masih belum melihat pentingnya berinvestasi, khususnya investasi produk properti.

Ada banyak alasan yang melatarbelakangi keengganan generasi milenial untuk membeli properti.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Properti Hendro S Gondokusumo mengatakan, ada kencenderungan generasi milenial menganggap membeli properti tidak penting.

Padahal, seiring dengan perkembangan inovasi di kalangan pengembang properti, perbankan, dan teknologi, membeli atau berinvestasi properti bukanlah misi yang mustahil.

Dia mengakui, memang ada beberapa tantangan yang dihadapi generasi ini yakni proses ribet, butuh dana besar, dan lain sebagainya.

"Oleh karena itu, Kadin Indonesia Bidang Properti mencoba menjawab sejumlah mitos itu melalui acara Ngobrol Properti bareng Kadin Indonesia dengan tema “Kapan Beli Properti” pada hari Kamis, 26 April 2018 di 57 Promenade, Graha Niaga Thamrin, Jakarta Pusat.

Hendro menelisik ada enam hal yang membuat generasi milenial ogah berinvestasi properti.

1. Butuh Modal Besar

Kenaikan harga rumah lebih cepat ketimbang kenaikan penghasilan. Hal ini tidak sepenuhnya salah tetapi sama seperti produk investasi lainnya, membeli rumah mempunyai banyak pilihan skema pembiayaan.

Hal terpenting yang harus dilakukan adalah membuat rencana keuangan yang tepat untuk dapat memiliki rumah yang diidamkan.

Selain itu, harus disadari bahwa membeli rumah di Jakarta tentu berbeda harganya dibandingkan dengan membeli rumah di pinggiran Jakarta yang lebih terjangkau.

Pemerintah dan para pengembang juga menyediakan pilihan-pilihan yang masih bisa dijangkau, seperti Program Sejuta Rumah atau produk transit oriented development (TOD) di beberapa stasiun kereta listrik maupun MRT dengan harga terjangkau sesuai dengan jenis produk.

2. Rumah Itu Investasi yang Tidak Likuid

Rumah memang merupakan investasi yang tidak dapat segera diubah menjadi uang kas setiap saat. Butuh waktu agar sebuah properti bisa menjadi mesin uang dengan mempertimbangkan lokasinya dan harga pasar.

Namun, properti merupakan salah satu investasi yang tergolong aman dengan kenaikan harga yang cenderung stabil.

Properti yang dibeli pada tahun 2016 dengan harga Rp 400 juta, harganya saat ini bisa mencapai Rp 600 juta, atau naik sekitar 50 persen dalam 2 tahun.

Yang harus diingat adalah, investasi properti harus diletakkan dalam konteks jangka panjang. Investasi tidak hanya dapat diartikan membeli produk lalu menjualnya kembali dengan harga lebih mahal.

Investasi bisa juga dilihat sebagai produk yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan, seperti membeli rumah untuk disewakan, dijadikan kos-kosan, atau mengikuti perkembangan teknologi saat ini, rumah juga dapat dijadikan sebagai penginapan.

3. Takut Berhutang

Sebelum membeli rumah, penting untuk melihat risiko dan keuntungan yang ditawarkan oleh setiap pengembang dan bank.

Selama milenial masih mempunyai gaji, ketakutan tidak bisa membayar merupakan kecemasan yang tidak berasalan.
Sama seperti memulai usaha, membeli properti juga membutuhkan modal. Oleh karena itu, tidak ada salahnya mengandalkan perbankan atau jasa pembiayaan lainnya melalui KPR atau KPA.

4. Prosesnya Ribet

Zaman sekarang ini, seharusnya tidak ada yang ribet dalam kehidupan. Begitu juga dengan membeli properti.

Para pengembang pada umumnya sudah memfasilitasi berbagai macam pengurusan dokumen dalam pembelian properti.

5. Takut Ditipu

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menghindari penipuan adalah dengan memperbanyak informasi.

Ketika memutuskan untuk membeli rumah, pastikan Anda mengetahui berbagai macam skema dan konsekuensi terburuk dari sebuah pilihan.
Jangan mudah tergiur dengan iming-iming dan janji-janji tidak jelas, seperti harga unit yang terlampau murah, diskon besar-besaran, dan lain sebagainya.

Dengan internet, informasi bisa didapatkan sangat mudah. Kalau masih bingung dengan informasi yang beredar di internet, datangi pengembang dan bank bersangkutan secara langsung.

6. Prinsip Yolo (You Only Live Once)

Punya rumah dirasakan oleh sebagian besar milenial bukan kebutuhan utama. Kebutuhan utama mereka adalah gaya hidup, seperti fashion, F&B, traveling, pendidikan, dan komunitas.

Rumah dan tempat tinggal kemungkinan ada di urutan buncit, atau bukan sesuatu yang penting untuk diwujudkan.
Hidup cuma sekali dan mempersiapkan hidup nyaman harus dimulai sedini mungkin. Tidak mau kan sampai umur 40 tahun sudah menikah masih tinggal bersama orang tua?

Rabu, 20 Februari 2019

5 Tips Menjadi Pekerja Bebas Atau Freelancer Berkualitas

5 Tips Menjadi Pekerja Bebas Atau Freelancer Berkualitas

Bekerja merupakan suatu kewajiban bagi semua orang yang hidup di dunia ini. Mengapa Anda harus bekerja? Sebab tidak ada yang gratis di dunia ini, kecuali oksigen. Karena itu, ada baiknya kita tidak meremehkan segala jenis pekerjaan yang dikerjakan orang lain atau diri sendiri.

Tahukah Anda jika setiap pekerjaan itu penting dan saling berhubungan dengan pekerjaan lainnya? Hal ini bisa dikatakan mirip dengan simbiosis mutualisme di mana antara satu pekerjaan dan pekerjaan yang lain saling memengaruhi.

Ada berbagai macam jenis pekerjaan. Bahkan, pekerjaan juga bisa dibagi menjadi banyak kategori berdasarkan waktu, seperti full time, part time atau freelance. Ulasan berikut ini akan membahas tentang menjadi seorang freelancer berkualitas.

Dikutip dari Cermati.com, berikut ini tips-tipsnya.

1.Motivasi Diri Sendiri

Freelancer bukanlah suatu pekerjaan yang bisa diremehkan atau bahkan dianggap tidak penting. Jika Anda bekerja sebagai freelancer, ada baiknya belajar untuk memotivasi diri sendiri agar bisa memberikan hasil pekerjaan yang berkualitas.

Jangan menganggap kalau pekerjaan Anda hanyalah sebagai sampingan atau bisa dinomorduakan. Jika Anda sudah memilih bekerja sebagai freelancer, ada baiknya berkomitmen dengan hal tersebut.

Gunakan waktu Anda sebaik mungkin dan pastikan kedisiplinan melekat dalam diri atau karakter Anda saat bekerja.

2.Pilih Bidang yang Disukai dan Dikuasai untuk Mengambil Proyek Freelance

Menjadi seorang freelancer bukanlah hal yang mudah. Sebab kita harus menyesuaikan dengan minat dan penguasaan. Jangan menganggap pekerjaan tersebut remeh dan bisa ditunda.

Untuk mengantisipasi penunandaan pekerjaan tersebut, kita sebaiknya bekerja sesuai dengan passion yang dimiliki.

Ada banyak sekali hal yang bisa dijadikan sebagai pekerjaan lepas, misalnya content writer, fashion designer, fotografer, dan masih banyak lagi jenis pekerjaan freelance lainnya yang bisa dipilih.

3.Mengatur Waktu

Time is Money itulah istilah yang sering dikeluarkan kebanyakan pebisnis atau klien. Pastikan jika Anda bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat.

Misalnya, dengan bekerja menjadi freelancer dan pastikan jika Anda melakukannya dengan sungguh-sungguh.  

Setelah mengerjakan pekerjaan utama, Anda bisa mengisi waktu luang dengan mengerjakan pekerjaan sampingan tersebut. Dengan begitu, tentu akan ada banyak sekali keuntungan yang bisa Anda peroleh seperti uang tambahan atau kemampuan mengatur waktu.

4.Jalin Relasi secara Baik dengan Klien

Cara terbaik untuk bisa bekerja secara nyaman dan tenang adalah dengan cara menjalin relasi yang baik dengan klien. Baiknya relasi akan membuat Anda semakin lancar juga dalam menjalankan sebuah tugas dari klien.

Ciptakan relasi yang komunikatif dengan klien dan pastikan jika Anda menunjukan attitude yang baik. Pastikan jika Anda menggunakan bahasa yang baik dan benar. Jangan lupa ucapkan salam dan jangan terlalu berlebihan dalam berbicara.

5.Agreement

Salah satu hal yang harus Anda perhatikan sebelum mengerjakan pekerjaan sebagai freelancer adalah dengan melakukan agreement dengan klien. Gunanya agar tidak terjadi salah paham. Intinya adalah membuat perjanjian sebelum menjalankan tugas atau pekerjaan tersebut.

Perjanjian yang dilakukan bisa berupa jenis pekerjaan, batas waktu yang diberikan, fee yang akan diberikan, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan perjanjian.

Jika sudah membuat perjanjian, pastikan jika Anda akan memenuhi segala isinya dan tepat waktu dalam menyelesaikan tugas tersebut agar klien tidak merasa kecewa.

Keuntungan Jadi Freelancer

Tahukah Anda, jika ada banyak sekali keuntungan yang bisa didapatkan dengan memiliki pekerjaan sampingan sebagai freelancer.

Keuntungan yang bisa Anda dapatkan sangat banyak, misalnya pengalaman baru, memiliki kenalan baru, mendapatkan uang tambahan, dan bisa memiliki dua profesi sekaligus.

Tidak hanya itu. Menjadi seorang freelancer juga akan membuat Anda memiliki nilai plus di mata banyak orang, terutama di bidang pekerjaan.